oleh

Mengenang Kisah Tukang Becak Dengan Soekarno

Wawasan Kita, Berita Nasional – Bung Karno merupakan pemimpin yang menghargai betul orang-orang kecil yang olehnya disebutnya Marhaen. Baik itu kuli, tukang sayur, petani hingga tukang becak.

Bahkan pada suatu pidato di Istana Merdeka yang ditonton banyak rakyat, Bung Karno membuka pidatonya dengan menyebut-nyebut mereka.

Namun, siapa sangka Bung Karno dengan tegas meminta rakyatnya untuk tidak menjadi tukang becak. Larangan itu disampaikan Bung Karno pada Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun Jakarta ke-435.

Akan tetapi larangan tersebut, bukan karena Bung Karno tidak sayang rakyatnya. Larangan itu justru sebagai wujud kasih sayang ia kepada rakyat.

Menurut Bung Karno, becak merupakan bentuk penghisapan manusia oleh manusia yang sangat merendahkan derajat dan martabat bangsa. Ia melarang rakyat menjadi tukang becak sekalipun dibayar dengan harga tinggi.

“Jangan mau menjual jiwa, mendjadi objek exploitation de l’homme par l’homme. Carilah jalan lain untuk keperluan hidup, apa saja,” seru Bung Karno.

Tukang becak sendiri sampai saat ini masih tetap ada di Jakarta, meskipun pemerintah setempat melarang becak beroperasi di jalan-jalan ibu kota. Becak oleh Pemprov DKI hanya diperbolehkan beroperasi di area pasar dan pemukiman warga.

Namun bukan seperti Bung Karno yang melarang tukang becak karena modal transportasi tersebut merupakan simbol penghisapan manusia oleh manusia. Pemprov DKI melarang becak semata-mata untuk menjaga ketertiban.

Sumber: sukarno.org

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed